Chat with Us

Aktifkan STARBOX

Sukses Berbisnis Kain Songket di Era Media Sosial


0

'Rumah Songket Adis' telah eksis selama 10 tahun di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Sosok di belakang kesuksesan galeri kain khas dari Kota Mpek-mpek itu adalah Nyayu Nur Khomariah, 32 tahun.

Adis, sapaan akrab Nyayu, berani memulai usaha ini karena sudah tidak asing dengan kain songket. Ibunya merupakan penenun songket yang memperkerjakan sekitar 30 orang berasal dari luar kota.

Namun, siapa sangka, usaha yang kini sudah meraup omzet ratusan juta rupih itu justru pada awalnya sama sekali tidak disukainya. Bahkan sejak lama Adis mengindam-idamkan menjadi pekerja kantoran.

"Saya itu sebenarnya tidak suka dengan kegiatan menenun, karena rumah jadi kotor. Saya ingat saat teman-teman sekolah akan datang ke rumah, terpaksa repot karena harus bersih-bersih," kata Adis, mengenang.

Semua berawal dari keputusannya untuk berhenti bekerja di sebuah bank BUMN terkemuka lantaran hendak ditempatkan di Muaro Bungo, Jambi.

Pemenang kompetisi kain sutra tingkat nasional tahun 2015 ini pun akhirnya melihat pekerjaan ibunya yang setiap hari menghasilkan beberapa lembar songket untuk disuplai ke sejumlah butik di Palembang dan Jakarta sebagai suatu peluang emas.

Saat itu tahun 2007, ia hanya bermodalkan sebuah laptop yang diperoleh dengan cara kredit, dan laman di akun media sosial Friendster.

"Saya mulai masukkan foto-foto songket, dipilih yang bagus. Lama-lama ada yang pesan dari luar Palembang karena orang tahunya beli songket itu hanya di Palembang," kata pemenang ajang wirausaha muda mandiri Bank Mandiri se-Sumatera tahun 2012 ini.

Lambat laun usaha pun berkembang, dan kediaman orang tuanya tidak lagi memungkinkan untuk dijadikan tempat berdagang. Selain sempit juga kurang represtatif.

Lalu, peraih Upakarti bidang Kepeloporan Wirausaha ini memutuskan untuk membuka toko di kawasan perbelanjaan Ilir Barat Permai, Palembang.

Untuk itu dibutuhkan pasokan barang yang cukup banyak untuk dipajang di etalase toko sehingga mengambil barang cukup banyak dengan cara berhutang, yang pembayaran diberikan tempo waktu tiga bulan.

Mungkin karena usaha ini berkembang membuat pemasok barang kurang suka mengingat keuntungan yang diperoleh Adis jauh lebih besar jika dibandingkan mereka sehingga mulai mengubah kesepakatan.

"Pemasok minta langsung dibayar dengan nominal Rp50 juta. Jika tidak maka barang akan ditarik, dan benar saja, semua barang diambil. Saya pun harus gigit jari," kata Adis dalam seminar bertema "Ayo Berani Berwirausaha" di Palembang, Kamis, 22 Desember 2016.

Guncangan pun bukan sebatas itu, Adis terpaksa kembali berdagang ke rumah ibunya karena toko tempat berjualan terpaksa ditutup pemerintah terkait perubahan rencana tata ruang.

Padahal ketika itu, ia sudah membayar uang sewa selama tiga tahun. "Saya sampai menggugat ke DPR," ujar dia.

'Rumah Songket Adis' telah eksis selama 10 tahun di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Sosok di belakang kesuksesan galeri kain khas dari Kota Mpek-mpek itu adalah Nyayu Nur Khomariah, 32 tahun.

Adis, sapaan akrab Nyayu, berani memulai usaha ini karena sudah tidak asing dengan kain songket. Ibunya merupakan penenun songket yang memperkerjakan sekitar 30 orang berasal dari luar kota.

Namun, siapa sangka, usaha yang kini sudah meraup omzet ratusan juta rupih itu justru pada awalnya sama sekali tidak disukainya. Bahkan sejak lama Adis mengindam-idamkan menjadi pekerja kantoran.

"Saya itu sebenarnya tidak suka dengan kegiatan menenun, karena rumah jadi kotor. Saya ingat saat teman-teman sekolah akan datang ke rumah, terpaksa repot karena harus bersih-bersih," kata Adis, mengenang.

Semua berawal dari keputusannya untuk berhenti bekerja di sebuah bank BUMN terkemuka lantaran hendak ditempatkan di Muaro Bungo, Jambi.

Pemenang kompetisi kain sutra tingkat nasional tahun 2015 ini pun akhirnya melihat pekerjaan ibunya yang setiap hari menghasilkan beberapa lembar songket untuk disuplai ke sejumlah butik di Palembang dan Jakarta sebagai suatu peluang emas.

Saat itu tahun 2007, ia hanya bermodalkan sebuah laptop yang diperoleh dengan cara kredit, dan laman di akun media sosial Friendster.

"Saya mulai masukkan foto-foto songket, dipilih yang bagus. Lama-lama ada yang pesan dari luar Palembang karena orang tahunya beli songket itu hanya di Palembang," kata pemenang ajang wirausaha muda mandiri Bank Mandiri se-Sumatera tahun 2012 ini.

Lambat laun usaha pun berkembang, dan kediaman orang tuanya tidak lagi memungkinkan untuk dijadikan tempat berdagang. Selain sempit juga kurang represtatif.

Lalu, peraih Upakarti bidang Kepeloporan Wirausaha ini memutuskan untuk membuka toko di kawasan perbelanjaan Ilir Barat Permai, Palembang.

Untuk itu dibutuhkan pasokan barang yang cukup banyak untuk dipajang di etalase toko sehingga mengambil barang cukup banyak dengan cara berhutang, yang pembayaran diberikan tempo waktu tiga bulan.

Mungkin karena usaha ini berkembang membuat pemasok barang kurang suka mengingat keuntungan yang diperoleh Adis jauh lebih besar jika dibandingkan mereka sehingga mulai mengubah kesepakatan.

"Pemasok minta langsung dibayar dengan nominal Rp50 juta. Jika tidak maka barang akan ditarik, dan benar saja, semua barang diambil. Saya pun harus gigit jari," kata Adis dalam seminar bertema "Ayo Berani Berwirausaha" di Palembang, Kamis, 22 Desember 2016.

Guncangan pun bukan sebatas itu, Adis terpaksa kembali berdagang ke rumah ibunya karena toko tempat berjualan terpaksa ditutup pemerintah terkait perubahan rencana tata ruang.

Padahal ketika itu, ia sudah membayar uang sewa selama tiga tahun. "Saya sampai menggugat ke DPR," ujar dia.

Pameran tunggal ini akan dedikasikan ke orang-orang yang selama ini telah mendukungnya dan Sumatera Selatan sendiri karena sudah diwarisi karya bernilai tinggi dari nenek moyang, yakni kain songket.

Sementara itu Kepala Program Pendidikan Palcomteck Palembang Febrianti mengatakan apa yang dilakukan Adis saat ini sudah diterjemahkan dunia pendidikan di tingkat perguruan tinggi.

Jika Adis memulai bisnis secara ototidak dan dilakukan setelah lulus kuliah, maka berbeda dengan saat ini. Kini tidak heran jika ada mahasiswa yang sudah berwirausaha meski mereka masih berstatus mahasiswa.

Hal ini ditunjang dengan kemudahan informasi di era media sosial. Bagi mereka yang pandai memanfaatkan peluang maka sudah mampu mendapatkan uang meski sedang kuliah.

"Bahkan saat ini mahasiswa ditantang uji nyali untuk merealisasikan rencana bisnis yang mereka buat. Dan mengejutkan, beberapa di antaranya sudah berhasil," kata dosen bidang kewirausahaan ini.

Iklim bisnis rintisan (startup) di Indonesia terus berkembang dengan nilai bisnis e-commerce mencapai US$ 18 miliar dan ditargetkan dalam lima tahun akan tumbuh 10 kali lipat.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengajak generasi muda Indonesia untuk melek teknologi agar menjadi pebisnis startup atau usaha rintisan digital.

"Untuk menumbuhkan iklim startup dan iklim bisnis Indonesia maka dibutuhkan tenaga-tenaga industri yang unggul," katanya.

Negara sudah mengeluarkan Peta Jalan e-commerce yang menjadi acuan pemangku kepentingan, di samping adanya berbagai peraturan/ketentuan yang mendorong tumbuh kembangnya e-commerce.

Oleh karena itu, pemerintah harus bisa memberikan kepastian dan kemudahan berusaha dalam memanfaatkan e-commerce dengan menyediakan arah dan panduan strategis untuk mempercepat pelaksanaan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik pada periode 2016-2019.

Indonesia adalah salah satu pengguna internet terbesar di dunia, mencapai 93,4 juta orang dan pengguna telepon pintar (smartphone) mencapai 71 juta orang.

Dengan potensi yang begitu besar, pemerintah menargetkan bisa tercipta 1.000 technopreneurs dengan valuasi bisnis sebesar 10 miliar dolar AS dan nilai e-commerce mencapai US$ 130 miliar pada 2020.

(***)

Sumber: www.tempo.co.id 


PROFIL PENULIS

Socmed Ebis


Ada 0 Komentar

Kirim Komentar


TULISAN TERKAIT

Dulu Cuma Pengamen, Kini Jadi "Raja Cendol" Beromzet Rp 1 Miliar

Radja Cendol (Randol) kini sukses mengantarkan cendol sebagai minuman tradisional yang naik kelas. Pendiri Radja Cendol, Danu Sofwan menjelaskan, saat ini permintaan cendol terus meningkat. Setiap ...

Menakjubkan! 10 Orang Ini Menjadi Sukses Berkat Kejeniusannya

Mereka membuat kemajuan di beberapa bidang kehidupan. Sehingga mereka menjadi miliarder di dunia karena hasil dari ide-ide mereka yang luar biasa, bukan karena sengaja ingin menjadi kaya. Orang-orang ...

Berani Berinovasi, Pria Ini Kreasikan Donat yang Bersinar dalam Gelap!

Glow in the dark sepertinya tidak pernah ada matinya, baik dibidang fashion bahkan saat ini inovasi tersebut merambah dibidang makanan. Setelah sebelumnya pecinta kuliner dihebohkan dengan permen kapa ...

Siapa Sangka, Mantan Buruh Pabrik Kini Jadi Wanita Terkaya di Dunia

Zhou Qunfei merupakan pendiri Lens Technology dan didaulat menjadi orang terkaya di dunia urutan 186 versi majalah Forbes. Ini karena kekayaannya mencapai US$ 9,3 miliar atau sekitar Rp 123,69 triliun ...

Madeline Stuart: "Kekurangan Ku Tidak Menjadi Penghalang Kesuksesan di Dunia Fashion"

Madeline Stuart sebelumnya sudah dikenal sebagai bocah pantang menyerah. Meski mengalami Down Syndrome, gadis 20 tahun ini sejak usianya belia sudah menjadi model berkebutuhan khusus yang menyita perh ...

Cek! 5 Karakter Ini Harus Dimiliki Dari Jiwa Seorang Pengusaha

Banyak orang menganggap pekerjaan paling enak di dunia adalah menjadi seorang pengusaha. Tidak diatur oleh atasan, tidak punya jam kerja di kantor seperti karyawan biasa, uangnya banyak, mobil mahal, ...

10 Kalimat Pembangkit Ini Bantu Kamu Saat Putus Asa

Semangat dari dalam diri yang sebenarnya lebih kuat dari orang lain, tempat bermulanya keyakinan yang sangat teguh. Menyemangati diri sendiri pun sesederhana mengatakan beberapa hal ini ke dirimu. ...

Merantaulah, Kerap Kamu Akan Rasakan 7 Perjuangan Ini

Kamu merupakan anak ratauan bukan sobiz? Kalau iya, sebagai anak rantau sobiz ada beberapa hal yang memang membuat kamu mendapatkan banyak pengalaman yang mungkin belum tentu kamu dapatkan di rumah as ...

Ngaku Bermental Baja? 6 Karakter Ini Wajib Kamu Punya!

Sobiz, memang sudah merasa dirinya paling kuat yang diibaratkan si mental baja, tapi ketahuilah sobiz memiliki mental baja adalah pilihan yang berawal dari kedisiplinan, bukan suatu mukjizat yang data ...

Berbisnis Jam Tangan Kayu, Pria Bandung Ini Sukses Raup Puluhan Juta

Jam tangan atau arloji merupakan alat penunjuk waktu yang juga berfungsi menjadi aksesoris pergelangan tangan. Terkadang bagi kalangan tertentu, jam tangan menunjukkan eksistensi. Pandangan tersebu ...