Chat with Us

Aktifkan STARBOX

Art of Business: Dipecat Dari Kantor, Orang Ini Akhirnya Sukses Membuka Usaha Daur Ulang Plastik


0

Pemutusan hubungan kerja mungkin menjadi hal yang tidak mengenakan bagi sebagaian orang, namun tidak untuk Ummah Daeng Ne’nang (48). Saat diberhentikan sebagai karyawan dari sebuah perusahaan rotan di Makassar, Sulawesi Selatan, Ummah tidak patah semangat dan malah mambawa berkah baginya yang menjadi awal dari sebuah kehidupan yang menjanjikan.

Sesaat setelah dipecat tahun 2005 Ummah bersama suami nya, Abdul Rachman Nur (60) berinisiatif mendirikan Yayasan Peduli Pemulung dan mulai menekuni dunia usaha produksi tas dari bahan baku sampah plastik. Mereka berdua dibantu oleh teman-teman pemulung yang tergabung dalam yayasannya.

Ide untuk membuat tas dari sampah plastik muncul saat Ummah menonton acara keterampilan tangan di salah satu stasiun televisi. Dalam acara tersebut, Ummah melihat beberapa perajin memperagakan produksi tas yang memanfaatkan plastik bekas sabun cuci piring, kecap, minyak goreng, pelembut pakaian, ataupun mie instan.

Walaupun hanya memiliki pendidikan setingkat kelas 3 SD, anak kedua dari tujuh bersaudara ini memiliki bakat kesenian yang paling menonjol dibandingkan saudara yang lainnya. Bahkan sejak usia lima tahun, Ummah mampu menganyam seperti yang sering dilakukan sang ibu. Ummah mengisi waktu luangnya saat masih bekerja di perusahaan rotan dengan menjahit boneka dari benang wol.

Namun setelah dipecat, Ummah tak lagi menyia-nyiakan bakatnya. Ia meminta para pemulung yang menjadi anggota yayasannya untuk memasok sampah plastik dan menciptakan produk daur ulang. Ummah dan suami sepakat melabeli produk mereka “tas sayang lingkungan” karena sesuai dengan niat awal keduanya untuk berperan serta menjaga kelestarian lingkungan disamping mencari keuntunga dari penjualan tas.

Demi kelangsungan pembuatan tas, Ummah menggaet beberapa tetangga untuk mencuci sampah plastik tersebut dengan upah Rp 2.000 per orang. Selain itu, Ummah juga menyulap rumah tipe 35 miliknya menjadi kantor yayasan dan tempat produksi tas. Pada mulanya, Ummah memproduksi tas sekolah dan tas jinjing yang dijual seharga Rp 40.000 per buah. Dalam sebulan ia berhasil menjual 50 tas dengan mendapatkan omzet Rp 1,5 juta-Rp 2 juta per bulan. Hal ini berkat kegigihan Ummah berkeliling instansi pemerintah ataupun permukiman warga.

Tiga bulan kemudian, penjualan tas plastik sempat menurun dan Ummah pun mendapat masukan untuk membuat beragam jenis produk sampah plastik lainnya, seperti tas laptop, tas bepergian, tas kerja, jas hujan, celemek, serta dompet. Produk tersebut dijual mulai Rp 20.000 hingga Rp 100.000 per buah. Setelah mengikuti saran dari temannya tersebut, Ummah semakin percaya diri untuk menawarkan produk buatannya ke instansi pemerintah. Dan produk tersebut sering diminati saat seminar dan pameran yang diadakan oleh pemerintah daerah.

Dengan mengikuti kegiatan pemerintah daerah tersebut dan menggunakan sistem bagi hasil, Ummah mampu menghasilkan minimal 500 produk dan mengantongi omzet hingga Rp 3 juta per bulan. Namun Ummah masih terus berharap bahwa pemerintah daerah Sulawesi Selatan terus mendukung usaha miliknya karena merupakan produk ramah lingkungan. Ia juga berharap agar produknya bisa diperkenalkan ke pasar nasional ataupun internasional.

Bagaimana menurut Sobiz, apakah mendapat banyak pelajaran dari pengalaman yang dialami oleh Ummah dan suaminya tersebut ?

Temukan lebih banyak informasi seputar referensi peluang usaha lengkap dengan berbagai tips dan trik untuk mengembangkan usaha tersebut dengan cara bergabung bersama komunitas Smartbisnis. Tak hanya itu, dengan bergabung bersama Smartbisnis, maka Sobiz juga bisa mendapatkan pinjaman modal mudah.

Jadi tunggu apalagi ? Segera kunjungi www.smartbisnis.co.id sekarang juga !

 

PROFIL PENULIS

Administrator Content


Ada 0 Komentar

Kirim Komentar