Chat with Us

Aktifkan STARBOX

4 Hal yang Dibenci dari Perilaku Media Sosial Sebuah Brand Bisnis


0

Lebih dari 75 persen dari orang dewasa menggunakan Facebook dan setengahnya lagi memilih media sosial lainnya. Di zaman perkembangan teknologi dan internet ini, media sosial menjadi alat yang ampuh bagi para pelaku bisnis untuk menjangkau lebih banyak pelanggan dan mengirimkan pesan mereka ke audience yang lebih luas untuk mendapatkan pelanggan potensial.

Tahukah kamu, menurut sebuah penelitian, 97 persen pelanggan mengatakan, media sosial mempengaruhi keputusan pembelian mereka. Jadi, jika brand bisnis kamu tidak membuat image atau pesan produk yang tepat, kamu bisa kehilangan pasar.

Melansir dari Business 2 Community, ada 4 hal yang harus mulai kamu hentikan untuk menghindari citra atau respon negatif dari audience, yaitu:

Terlalu banyak promosi

Hootsuite pernah melakukan survei, hal apa yang paling membuat pelanggan atau followers sebuah media sosial kesal dari sebuah produk atau pelaku bisnis. Jawabannya adalah, pelaku bisnis yang terlalu banyak melakukan dan hanya berfokus pada promosi produk bisnis mereka.

Saat ini, belum banyak pelaku bisnis UKM memiliki seseorang yang fokus mengurus media sosial untuk bisnisnya. Biasanya pekerjaan ini dibebankan kepada salah satu karyawan atau mungkin bahkan pemilik bisnis sendiri, yang mana, tentu mereka memiliki pekerjaan lain, seperti menjalankan bisnis atau menganalisa pasar.

Itu berarti, konten yang akan di-update di media sosial tidak dibuat sebaik mungkin. Mereka mungkin hanya akan update mengenai pesan penjualan atau promosi produk bisnis. Setelah itu, mereka akan fokus kembali pada tugas utama mereka.

Sayangnya, banyak dari mereka yang hanya update konten "sekenanya" ini, tidak mengetahui konten seperti apa yang harus "dilempar" kepada pelanggan. Belum lagi, bagi mereka hanya mementingkan kuantitas berpikir, semakin banyak konten yang di-update semakin akan menyenangkan pelanggan. Faktanya justru sebaliknya. Pelanggan membutuhkan konten yang berkualitas.

Salah memanfaatkan moment atau slang

Beberapa pelaku bisnis memanfaatkan referensi budaya, berita terkini, meme, slang, dll, untuk menjangkau pelanggan atau audience. Pendekatan seperti ini dianggap lebih disukai dan dapat bekerja dengan baik, sehingga dapat menambah koneksi dengan pelanggan atau calon pelanggan.

Namun, jika tidak dilakukan dengan benar, atau berlebihan, pendekatan ini dapat merusak brand kamu. Pelanggan atau pengguna media sosial lainnya dapat terganggu. Bahkan, jika kamu mencoba "memanfaatkan" sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan bisnis, postingan kamu justru akan membuat pelanggan marah.

Bukan berarti kamu tidak bisa menggunakan meme misalnya untuk diposting dalam media sosial atau website bisnis kamu, tapi akan lebih bijak jika kamu memposting hal-hal yang berkaitan dengan bisnis. Akan lebih baik lagi, jika kamu bisa terlibat dalam percakapan dengan para pelanggan atau audience, daripada hanya terus melakukan posting atau selalu mencoba menjadi "bahan pembicaraan".

Posting hanya di saat memiliki waktu

Ada banyak alasan mengapa tidak melakukan posting secara konsisten berpengaruh negatif kepada brand kamu, terutama dalam jejaring sosial Facebook. Alasan utamanya adalah Facebook Algorithm atau algoritma Facebook. Jika kamu mem-posting hanya ketika kamu memiliki waktu luang atau ketika kamu memikirkan harus melakukannya, atau ketika kamu memiliki promosi penjualan, postingan kamu mungkin tidak akan dilihat oleh banyak audience.

Algoritma Facebook menggunakan konsistensi update sebagai ukuran untuk melihat muncul atau tidaknya update kamu di News Feeds pengikut media sosial bisnismu. Juga untuk melihat engagement dari update kamu. Semakin rutin kamu posting, semakin banyak konten yang bisa dilihat oleh audience, semakin tinggi pula tingkat engagement.

Layanan pelanggan yang buruk

Sprout Social mensurvei 1.000 konsumen mengenai pilihan layanan pelanggan (customer care) yang mereka gunakan, dan 90 persen dari mereka mengatakan memilih media sosial untuk berkomunikasi dengan brand atau penjual. Melalui survei itu juga terungkap, pelanggan lebih memilih menggunakan media sosial untuk berkonsultasi mengenai masalah produk atau layanan bisnis terlebih dahulu, sebelum menggunakan pilihan media komunikasi lainnya, seperti telepon atau email.

Studi ini juga menemukan bahwa, 73 persen konsumen memanfaatkan media sosial sebuah brand untuk berkonsultasi mengenai masalah mereka. 36 persen orang menggunakan media sosial untuk melakukan komplain akan layanan yang buruk sebuah brand, dan 30 persen orang memilih untuk pindah brand jika tidak mendapatkan respon baik dari brand tersebut.

Sementara, pelaku bisnis atau brand yang merespon pelanggan atau konsumen mereka dan membuktikan jika mereka memiliki layanan pelanggan yang baik, mendapatkan hasil yang baik pula. 75 persen responden survei mengatakan mereka dengan senang hati berbagi pengalaman menyenangkan mereka atau hal-hal positif lainnya mengenai sebuah brand melalui media sosial, dan 70 persen pelanggan akan terus menggunakan produk atau jasa brand tersebut. Mereka yang mendapatkan "perilaku" baik dalam customer care, adalah calon pelanggan loyal brand bisnis kamu.

Jika kamu dan bisnismu memilih untuk menggunakan media sosial untuk meningkatkan jumlah pelanggan dan jumlah pendapatan bisnis, sudah saatnya bagi kamu untuk memikirkan kembali strategi yang tepat yang bisa kamu gunakan. Dan tentunya, pemilihan konten berkualitas untuk lebih mempermanis hubungan kamu dengan pelanggan dan calon pelanggan.

Selamat berbisnis!(inf)

(***) 

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan mendaftar DISINI.


PROFIL PENULIS

Socmed Ebis


Ada 0 Komentar

Kirim Komentar


TULISAN TERKAIT

Tips Membangun Usaha Working Space Dengan Koneksi Internet Canggih

Menjadi freelancer semakin banyak diminati oleh anak muda. Officer yang sudah bekerja di suatu perusahaan pun  juga mengambil bidang ini karena memang menjanjikan. Bahkan saat ini sudah banya ...

Pentingnya Membangun Brand Positioning Untuk Bisnis. Apa Artinya?

Ketika sebuah persaingan semakin ketat di dalam sebuah pasar, peran strategi marketing sebaiknya semakin kuat digencarkan oleh Sobiz sebagai pebisnis. Salah satu upaya marketing yang cukup sering dila ...

Berawal Dari Recehan Hingga Omzet Puluhan Juta, Inilah Tips Usaha Sewa Lahan Parkir Motor

Usaha jenis ini sekilas tidak begitu menggiurkan, namun coba luangkan waktu Sobiz untuk menghitung secara kasar penghasilan mereka yang menjalankan usaha tersebut. Jika tarif parkir kendaraan roda 2 s ...

Keuntungan Penggunaan Wifi di Tempat Berbisnis Bagi Masyarakat Yang Ingin Ngabuburit di Bulan Puasa

Para anak muda ataupun orang tua sudah pasti gemar menghabiskan waktu di luar rumah untuk menjalin kehidupan sosial, namun saat di luar rumah mereka tidak akan lepas dari kebutuhan Wifi. Mereka tak ja ...

Meningkatnya Investasi dan Industri Seusai Pemilu

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengharapkan agar dunia industri akan meningkat setelah Pemilihan Umum 2019. Keyakinan tersebut didasari oleh pengalaman Pemilu yang sudah ada sebelumnya. Indo ...

Tips Menciptakan Kemasan/Packaging Yang Baik Bagi Produk Agar Lebih Diminati

Saat ingin memulai sebuah bisnis pastinya akan ada banyak hal yang harus diperhatikan dan juga dibutuhkan, apalagi jika sebuah bisnis yang ingin dijalankan itu merupakan bisnis yang menjual d ...

Strategi Membangun Industri Perhotelan di Indonesia Bersama Hotelqu

Saat ini industri perhotelan di Indonesia terus berupaya membangun reputasinya. Banyak aturan yang membuat hotel harus survive, mulai dari sertifikasi profesi sumber daya manusianya, hingga sertifikas ...

Pinjaman Uang Online untuk Modal Usaha UMKM, Efektif kah untuk Balik Modal ?

Hampir setiap orang memiliki impian untuk membangun bisnisnya sendiri. Namun masalah modal seringkali menjadi kendala yang menyurutkan niat seseorang untuk berbisnis. Akibat kurang dana, Sobiz yang se ...

Kemudahan Akses Nonton Film di Café Sehingga Konsumen Betah Untuk Selalu Kembali

Geliat bisnis di bidang kafe dan kuliner terus berkembang pesat. Pelaku usaha kafe kuliner harus bisa menghadirkan konsep-konsep yang menarik konsumen datang untuk nongkrong. Persaingan bisnis kompeti ...

Mengintip Peran Digital Untuk Meningkatkan Prospek Bisnis Perfilman

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) memproyeksikan perfilman menjadi salah satu subsektor yang tumbuh pesat pada 2019. Inovasi teknologi digital, seperti layanan Over The Top (OTT), akan meningkat ...