Chat with Us

Aktifkan STARBOX

Benarkah Jumlah Like di Facebook Menentukan Sukses Tidaknya Produk Kamu?


0

Sebelumnya, kami pernah membahas mengenai sebuah situs asal Singapura yang diblokir Facebook karena dianggap terlalu “sosial”. Nah, saat ini situs konten viral yang bernama Goodyfeed tersebut, telah kembali eksis di Facebook.

Beberapa bulan lalu, situs ini pernah dibekukan sementara oleh Facebook, tanpa penjelasan sama sekali kepada para penggemar di halaman Facebook Goodyfeed ataupun halaman Facebook affiliasi mereka, Low Kay Hwa. Facebook menghapus semua konten dari halaman mereka dan tidak mengizinkan siapapun untuk membagikan artikel apa pun yang bertautan dengan situs mereka.

Alasan utama yang melatari pembekuan tersebut kemungkinan karena penggunaan plugin social locker di situs Goodyfeed, di mana para pembaca diharuskan untuk menyukai halaman Facebook Goodyfeed terlebih dulu sebelum dapat mengakses konten yang dituju.

Hal itu sangat menjengkelkan bagi sebagian besar pengguna, namun diaktifkannya plugin tersebut jelas merupakan langkah yang efektif. Hanya dalam tujuh hari, jumlah orang yang menyukai laman Facebook mereka bertambah lebih dari 55 ribu.

Berbekal logo teranyar, tampilan situs yang telah dipermak, dan konten yang berlimpah , mudah saja membuat orang lupa pada kejadian memalukan yang pernah menimpa mereka. Dan yang terpenting, kali ini mereka mesti menjaga halaman Facebook mereka yang sudah memiliki 311.000 penggemar agar tak dihukum kembali oleh Facebook.

Apakah jumlah like Facebook hanyalah metrik yang sia-sia?

Banyak dari kita yang beranggapan bahwa halaman Facebook adalah kanal yang tepat dalam marketing stack (perencanaan teknologi marketing yang disesuaikan dengan strategi bisnis dan SDA yang tersedia) untuk mempromosikan produk dan melalukan engagement dengan pengguna di dalamnya.

Namun, angka disukainya suatu halaman Facebook hanyalah metrik yang sia-sia. Tak ada founder yang akan menggunakan jumlah like Facebook sebagai metrik bisnis dalam rapat anggota direksi.

Like di Facebook bukanlah indikator kesuksesan sebuah produk, namun hanya mencerminkan efektivitas strategi konten.

Meski suatu halaman Facebook tak memliki jutaan like, bukan berarti halaman tersebut tidak menuai sukses. Tengok saja Slack, platform komunikasi bisnis yang kini bervaluasi US$3,8 miliar (sekitar Rp49 triliun) dan punya 2,7 juta pengguna aktif harian ini, penggemar Facebook mereka cuma berjumlah 37.000 orang.

Tapi, situasi bisa bertolak belakang jika kamu berkecimpung di industri media, atau jika kamu menghasilkan pendapatan lewat penjualan konten

Eksistensi platform media sosial seperti Facebook dan YouTube telah membentuk generasi kreator konten yang mampu menghasilkan keuntungan dari iklan dan sponsor. Bahkan, jika keuntungan finansial pada tahun 2015 yang diperoleh tiga belas YouTuber berpenghasilan paling tinggi digabungkan, totalnya mencapai US$54,5 juta (sekitar Rp708 miliar).

Sebelum kamu memutuskan berhenti dari pekerjaan kamu sekarang dan beralih menjadi YouTuber, penting untuk dicamkan baik-baik bahwa para YouTuber tersebut telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membuat ribuan video yang mampu menciptakan jalinan komunitas yang kuat yang terdiri dari jutaan subscriber sebelum berhasil mencapai posisi itu.

Perusahaan media ternama seperti Buzzfeed, The Atlantic, dan The Wall Street Journal pun juga tak mau ketinggalan “kue” tersebut. Mereka mampu menghasilkan pendapatan yang signifikan dengan cara berpartner bersama brand untuk menciptakan konten yang bukan hanya atraktif dan informatif, namun juga diharapkan mampu membangun awareness untuk brand yang mensponsorinya.

Akan tetapi, brand umumnya hanya mau berkolaborasi dengan penerbit yang punya reputasi, jumlah pembaca yang tinggi, atau jaringan distribusi yang luas. Logikanya sederhana saja: apabila situs X punya satu juta page view unik setiap bulannya, dan situs Y hanya punya sepuluh ribu page view unik setiap bulannya, brand pasti hanya sudi membayar lebih kepada situs X daripada Y.

Dengan kreator konten independen dan perusahaan media ternama seperti itu, terlihat pola yang jelas dan mudah ditebak ke mana arahnya. Semakin tinggi kualitas dan kuantitas konten yang dibuat, semakin banyak pula pengikut konten tersebut. Semakin banyak pengikut konten tersebut, semakin besar pula bayaran yang didapat.

Di sinilah letak permasalahannya

Dalam mengejar setoran, para kreator konten dituntut untuk menciptakan konten viral dan diperkenankan menempuh beragam jalan dan pendekatan untuk menyedot penggemar dan follower, bahkan terkadang mereka menghalalkan berbagai cara untuk mencapai target dan tujuan yang dicanangkan.

Belum lama ini Kenny Moffitt mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai produser junior di Buzzfeed dan ia mencurahkan rasa frustrasi yang dia rasakan di kanal YouTube pribadinya.

“Saya mulai menyadari (setelah bergabung dengan Buzzfeed) bahwa bagi Buzzfeed, seringkali, kuantitas lebih penting ketimbang kualitas,” bebernya. “Mereka lebih memilih jumlah video yang banyak daripada jumlah video yang sedikit namun berkualitas dan alasan yang mendasarinya adalah karena semakin banyak video yang kamu buat, semakin banyak pula keuntungan yang kamu peroleh.

“Ada juga tuntutan viralitas yang mengharuskan video buatanmu menjadi viral. Tak semuanya harus viral, namun sebagian besar harus demikian. Tuntutan yang sungguh tak main-main. Kamu pasti ingin video kamu ditonton jutaan orang dan mendapat porsi share ke Facebook dalam jumlah yang banyak. Terlebih sebagai staf magang, kamu dituntut untuk membuat banyak video yang hit. Persaingan yang kompetitif. Jika kamu tidak menjalankan tugas dengan baik, maka kamu tak akan mendapat jabatan produser.”

Dari penuturan Kenny, sebagian besar staf magang tersebut mengerahkan seluruh masa kerjanya selama tiga hingga sembilan bulan dengan membuat video viral untuk memperoleh posisi produser. Tanpa jenjang karir yang jelas dan minimnya kebebasan untuk mengerjakan proyek sampingan independen di Buzzfeed, Kenny pun memutuskan hengkang dan menjadi kreator independen.

Sejauh mana hal ini dapat ditoleransi?

Goodyfeed, demi mendulang lebih banyak like, nekat dibekukan oleh Facebook. Dilansir dari situs mereka, Goodyfeed kini mendapat peningkatan 8,9 juta page view bulanan, dan halaman Facebook menjadi pendorong utama trafik mereka. Dengan angka tersebut, sudah pasti mereka kini berada pada posisi yang lebih strategis untuk mengejar pendapatan dari iklan dan sponsor.

Namun, seandainya Facebook kembali membekukan halaman mereka dikarenakan adanya pelanggaran, bisa-bisa mereka kehilangan jutaan page view dan model bisnis mereka akan lumpuh.

Dalam kasus lain, halaman Facebook milik seorang fotografer juga dibekukan lantaran telah berkali-kali melanggar hak intelektual. Ia dituduh mencuplik beberapa video dari kreator lain tanpa izin.

Dalam usahanya mengejar trafik dan engagement yang lebih ramai, ia tak hanya kehilangan tahun-tahun upaya dan kerja keras dalam mengurus halaman Facebook, namun ia juga kehilangan aset yang paling berharga, yaitu akses terhadap dua juta pelanggannya.

Tampaknya kreator konten dan perusahaan penerbit rela mempertaruhkan segalanya demi mencapai viralitas, untuk menjaring lebih banyak penggemar di Facebook dan pelanggan YouTube, serta lebih banyak page view maupun video view. 

(***)

Sumber: id.techinasia.com


PROFIL PENULIS

Socmed Ebis


Ada 0 Komentar

Kirim Komentar


TULISAN TERKAIT

Tips Membangun Usaha Working Space Dengan Koneksi Internet Canggih

Menjadi freelancer semakin banyak diminati oleh anak muda. Officer yang sudah bekerja di suatu perusahaan pun  juga mengambil bidang ini karena memang menjanjikan. Bahkan saat ini sudah banya ...

Pentingnya Membangun Brand Positioning Untuk Bisnis. Apa Artinya?

Ketika sebuah persaingan semakin ketat di dalam sebuah pasar, peran strategi marketing sebaiknya semakin kuat digencarkan oleh Sobiz sebagai pebisnis. Salah satu upaya marketing yang cukup sering dila ...

Berawal Dari Recehan Hingga Omzet Puluhan Juta, Inilah Tips Usaha Sewa Lahan Parkir Motor

Usaha jenis ini sekilas tidak begitu menggiurkan, namun coba luangkan waktu Sobiz untuk menghitung secara kasar penghasilan mereka yang menjalankan usaha tersebut. Jika tarif parkir kendaraan roda 2 s ...

Keuntungan Penggunaan Wifi di Tempat Berbisnis Bagi Masyarakat Yang Ingin Ngabuburit di Bulan Puasa

Para anak muda ataupun orang tua sudah pasti gemar menghabiskan waktu di luar rumah untuk menjalin kehidupan sosial, namun saat di luar rumah mereka tidak akan lepas dari kebutuhan Wifi. Mereka tak ja ...

Meningkatnya Investasi dan Industri Seusai Pemilu

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengharapkan agar dunia industri akan meningkat setelah Pemilihan Umum 2019. Keyakinan tersebut didasari oleh pengalaman Pemilu yang sudah ada sebelumnya. Indo ...

Tips Menciptakan Kemasan/Packaging Yang Baik Bagi Produk Agar Lebih Diminati

Saat ingin memulai sebuah bisnis pastinya akan ada banyak hal yang harus diperhatikan dan juga dibutuhkan, apalagi jika sebuah bisnis yang ingin dijalankan itu merupakan bisnis yang menjual d ...

Strategi Membangun Industri Perhotelan di Indonesia Bersama Hotelqu

Saat ini industri perhotelan di Indonesia terus berupaya membangun reputasinya. Banyak aturan yang membuat hotel harus survive, mulai dari sertifikasi profesi sumber daya manusianya, hingga sertifikas ...

Pinjaman Uang Online untuk Modal Usaha UMKM, Efektif kah untuk Balik Modal ?

Hampir setiap orang memiliki impian untuk membangun bisnisnya sendiri. Namun masalah modal seringkali menjadi kendala yang menyurutkan niat seseorang untuk berbisnis. Akibat kurang dana, Sobiz yang se ...

Kemudahan Akses Nonton Film di Café Sehingga Konsumen Betah Untuk Selalu Kembali

Geliat bisnis di bidang kafe dan kuliner terus berkembang pesat. Pelaku usaha kafe kuliner harus bisa menghadirkan konsep-konsep yang menarik konsumen datang untuk nongkrong. Persaingan bisnis kompeti ...

Mengintip Peran Digital Untuk Meningkatkan Prospek Bisnis Perfilman

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) memproyeksikan perfilman menjadi salah satu subsektor yang tumbuh pesat pada 2019. Inovasi teknologi digital, seperti layanan Over The Top (OTT), akan meningkat ...