Chat with Us

Aktifkan STARBOX

4 Produk BUMN Siap Rambah Pasar Internasional


0

Karya anak bangsa, terutama dari perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tak bisa dipandang sebelah mata. Banyak produk perusahaan pelat merah ini menembus pasar dunia dan kualitasnya pun diakui.

Misalnya, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) mengekspor tailboom (ekor) ke-50 dan fuselage (badan) terasembeli yang ke-6 untuk Airbus Helikopter, Prancis. Pengiriman fuselage dan tailboom helikopter H225/H225M dari PTDI ini, upper dan lower fuselage helikopter H225/H225M telah terintegrasi.

H225/H225M sendiri merupakan penamaaan terbaru dari EC225 untuk versi sipil dan EC725 untuk versi militer.

Sebenarnya, masih banyak produk BUMN yang siap merambah pasar dunia. Berikut uraiannya seperti dirangkum merdeka.com;

1. Kereta buatan INKA rambah pasar Zambia

PT Industri Kereta Api (Persero) mulai merambah pasar di Benua Afrika sebagai ekspansi bisnis setelah memasarkan produk kereta api di negara-negara Asia Tenggara dan Asia Selatan.

"Fokus kami di Pasar ASEAN terlebih dahulu, kemudian paralel ke Asia Selatan, kemudian merambah ke Pasar Afrika, salah satunya Zambia," kata Pelaksana Tugas Direktur Utama PT Inka, M Nur Sodiq dikutip dari Antara, Senin (8/1).

Sodiq mengatakan, salah satu proyek yang tengah dijajaki dengan Zambia yaitu pengerjaan 30 lokomotif senilai kira-kira USD 90 juta atau Rp 1,3 triliun.

"Inka mempunyai visi menjadi 'world class rolling stock company', ini pun pasar baru setelah dengan Bangladesh, Srilanka dan Pakistan kita masuk lagi ke Pasar Afrika," katanya.

Dalam kesempatan sama, Executive Vice President Inka Bambang Kushendarto mengatakan pihaknya dengan Zambia masih dalam tahap proses negosiasi dengan Zambia.

"Jadi, ini masih dalam tahap negosiasi karena ini proyek pertama dengan Negara Afrika untuk pengadaan 30 lokomotif diesel elektrik," katanya.

Bambang mengatakan proyek tersebut merupakan tripartit antara Indonesia, Zambia dan Swedia, di mana Swedia memberikan pinjaman lunak (soft loans) kepada Zambia untuk membangun infrastruktur prasarana, sementara sarana (rolling stock) dilakukan oleh Indonesia, yaitu Inka.

Kerja sama tersebut dalam jangka waktu dua tahun, namun dengan pembangunan infrastruktur total empat tahun. "Lokomotif pertama yaitu untuk 22 bulan, jadi kami lokomotifnya saja, sementara Swedia untuk infrastruktur, seperti persinyalan," katanya.

Selain Zambia, Bambang menyebutkan, yaitu Negara Afrika yang tertarik lainnya adalah Nigeria.

"Yang sudah dekat ada Nigeria, Menteri Transportasinya sudah berkunjung ke Inka, sudah melihat ada kereta penumpang, kereta barang, macam-macam. Jadi dari luar negeri sudah banyak yang datang," katanya.

2. Senegal minat kapal perang buatan PT PAL

Pemerintah Senegal berminat membeli enam kapal perang dan empat kapal komersial buatan Indonesia. Hal ini dikatakan seorang pejabat yang disebut Ketua Conseil d'Administration du Conseil Senegalais des Chargeurs (COSEC), Babacar Ndiaye, yang mengunjungi PT PAL beberapa waktu lalu.

Dubes RI Dakar, Mansyur Pangeran menyampaikan pesan Babacar Ndiaye ketika bertemu dengan Direktur Utama PT PAL Indonesia Budiman Saleh, di kantor PT. PAL, Surabaya beberapa waktu lalu.

Dirut PT PAL menyampaikan potensi pasar Afrika yang cukup besar dan keunggulan yang dimiliki PT PAL dapat menjadi modal utama untuk bersaing dengan produk negara maju lainnya. PT. PAL memiliki keunggulan berupa teknologi tinggi, harga kompetitif, dan produk dapat di-customized sesuai pesanan.

"Selain itu, citra Indonesia yang sangat baik di Afrika dari kesuksesan penjualan pesawat CN-235 ke Senegal yang dapat dimanfaatkan untuk menembus atau melakukan penetrasi pasar produk-produk PT PAL di Senegal dan negara sekitarnya," ucap Sekretaris Pertama Pensosbud KBRI Dakar, Dimas Prihadi kepada Antara London, Rabu (6/9).

Dubes Mansyur juga menyampaikan Senegal selama ini membeli kapal dari Prancis, dan ini kesempatan bagi Indonesia menawarkan kapal PT PAL dengan keunggulan teknologi tinggi dan harga yang kompetitif.

Pelayanan purnajual pesawat udara produk Indonesia (CN-235) dipuji Pemerintah Senegal sehingga berminat membeli produksi industri strategis Indonesia lainnya. Dubes Mansyur mengharapkan PT PAL menindaklanjuti minat Senegal tersebut dan mengajak Dirut dan pejabat PT PAL untuk berkunjung ke Senegal guna merealisasikan kerja sama tersebut.

Pendanaan pembelian kapal tersebut dapat dijajaki melalui mekanisme pendanaan pihak ketiga dari AD Trade Belgium bekerja sama dengan Eximbank Indonesia.

Dirut Budiman Saleh meyambut kedatangan Dubes dan upayanya dalam mempromosikan produk PT PAL di Senegal dan negara-negara sekitarnya secara singkat menyampaikan profil PT PAL yang selain membuat kapal juga bekerja sama dengan Turki membuat floating power plant dan kapal selam (bekerja sama dengan Korea Selatan) serta menawarkan offshore platform untuk penemuan cadangan minyak di perbatasan Mauritania.

3. Kapal Landing Platform Dock buatan PT PAL dilirik Malaysia

Direktur Utama PT PAL Indonesia (Persero), Budiman Saleh mengklaim tengah kebanjiran permitnaan kapal perang dari berbagai negara. Usai dipesan Filipina, kapal perang buatan anak negeri tersebut dilirik banyak negara.

"Orang pada melihat Filipina menggunakan SSV. Itu jadi daya tarik magnet buat negara-negara ASEAN lainnya," kata Budiman di Gedung Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jakarta Pusat, Kamis (13/7).

Saat ini, Malaysia sudah memesan sebuah kapal jenis Landing Platform Dock (LPD) yang mampu memuat banyak helikopter (helikopter carrier). "Malaysia menginginkan LPD atau yang mereka sebut MRSS multi ro strategic support ship itu 163 m, lebih besar dan meminta untuk bisa dimuati kurang lebih 3 helikopter on deck dan 2 di dalam, jadi lebih bersifat seperti helikopter carrier," ujarnya.

Selain itu, Budiman mengatakan bahwa Filipina sudah berencana menambah daftar pesanan armada kapal perangnya jenis SSV dan Kapal Cepat Rudal (KCR).

"Mereka (Filipina) menginginkan sudah dalam pembicaraan itu adalah tambahan 2 tambahan SSV lagi dan juga tambah 1 SSV hospital ship plus tambah 2 KCR-60," ungkapnya.

Semua proyek tersebut, lanjutnya baru tahap penjajakan dan realisasinya baru terjadi di tahun 2018. "Targetnya baru dimulai pekerjaan penetrasi pasarnya, tentunya dalam waktu paling cepat 2018 sudah terjadi kontrak," pungkasnya.

4. Pesawat Nurtanio dipesan Meksiko

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Agus Santoso mengatakan pemerintah menyasar pasar Amerika Selatan untuk menjual pesawat Nurtanio produksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Di antaranya Meksiko, Guatemala, El Salvador dan Belize.

Dia menambahkan pemerintah Indonesia dan Meksiko telah sepakat bekerja sama dalam sektor penerbangan melalui proses penandatanganan Bilateral Airworthines Agreement antara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia dengan Directorate General of Civil Aeronautics Republic Mexico.

Perjanjian kerja sama tersebut terkait dengan Perjanjian Layanan Udara antara Pemerintah RI dan Meksiko, di mana kedua belah pihak menjadi bagian dari Konvensi Penerbangan Sipil Internasional.

Selain itu, kerja sama tersebut juga berisikan untuk saling mempromosikan layanan udara internasional dan untuk membangun layanan terjadwal antara masing-masing wilayah serta memastikan tingkat keselamatan dan keamanan tertinggi dalam layanan udara internasional.

"Meksiko adalah mitra penerbangan bilateral yang penting bagi Indonesia. Untuk itu, sangat perlu melakukan kerja sama pengakuan sistem kelaikudaraan antar kedua negara ini, agar hubungan kita lebih baik lagi dan menguntungkan kedua negara di masa mendatang," ujar Agus seperti dikutip Antara, Rabu (15/11).

Direncanakan pesawat Nurtanio akan dijual kepada Promotora Aerospacial El Paso (PAEP) Mexico, yang merupakan perusahaan Meksiko bekerja sama dengan Pemerintah Negara Bagian Chihuahua untuk mengembangkan regional airline untuk menghubungkan kota-kota di seantero Meksiko dan Amerika Serikat.

"Ada peluang kerja sama untuk menjual pesawat N219 produksi PTDI ke Mexico dan negara tetangganya seperti Guatemala, El Salvador. Untuk itulah diperlukan kerjasama terkait kelaikudaraan sehingga mempermudah proses penjualan pesawat tersebut. Salah satu elemen utama yang akan disertakan dalam BAA tersebut adalah sertifikasi produk-produk penerbangan di Indonesia sehingga bisa dipakai dan diakui langsung di Meksiko," imbuhnya.

Sementara itu, PTDI yang diwakili anak perusahaan IPTN North America dengan PAEP sedang dalam penandatanganan kesepakatan dan pembuatan kerangka kerja lanjutan. Diharapkan dapat mendorong penjualan 30 pesawat N219 di Meksiko dalam kurun waktu lima tahun mendatang.

Selain itu, IPTN North America juga telah mencapai kesepakatan sekaligus menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Light Blue. S.A. (Aero Resource Energy) Guatemala pada 8 Mei 2017 lalu.

(***)

Sumber: merdeka.com 

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan mendaftar DISINI.

 


PROFIL PENULIS

Socmed Ebis


Ada 0 Komentar

Kirim Komentar