Chat with Us

Aktifkan STARBOX

Akankah Teknologi Blockchain Menggerus Industri Perbankan?


0

Era teknologi informasi saat ini sudah semakin berkembang. Dari sisi dunia usaha, teknologi informasi membuka peluang yang menguntungkan, tetapi di sisi lain tidak sedikit yang justru mendapatkan efek negatif atau biasa disebut dengan disrupsi.

Seperti dilansir Tirto.id, dari sekian banyak inovasi dari teknologi informasi yang membuat was-was dunia usaha, Blockchain adalah salah satunya. Blockchain memungkinkan suatu transaksi, tidak lagi membutuhkan pihak ketiga atau perantara.

Contohnya ketika melakukan transfer uang, Tuan A mengirimkan uang ke Tuan B senilai Rp1 juta melalui internet banking. Sekilas, transfer yang dilakukan Tuan A kepada Tuan B tersebut tanpa perantara. 

Namun sebenarnya, transfer yang dilakukan Tuan A itu, sudah terekam dulu oleh pihak bank sebelum akhirnya uang tersebut sampai ke Tuan B. Nah, dengan Blockchain, uang Tuan A akan langsung berpindah ke Tuan B, tanpa terekam oleh bank.

Blockchain sederhananya adalah basis data global online yang dapat digunakan dan dilihat siapapun di seluruh dunia. Data yang disimpan pun tidak akan hilang, karena data yang disimpan didistribusikan kepada seluruh penggunanya.

Dengan data yang didistribusikan kepada seluruh pengguna, Blockchain dianggap lebih aman dari serangan peretas. Apabila salah satu server diretas, maka server itu dapat diabaikan karena dianggap berbeda dengan mayoritas jaringan server lainnya.

Kehadiran Blockchain yang menghilangkan "jasa perantara" tentunya memberikan ancaman bagi dunia usaha seperti industri perbankan. Dalam perjalanannya, kehadiran Blockchain justru membuka peluang bagi industri seperti perbankan—yang awalnya bakal terdisrupsi. Perbankan menjadi salah satu industri yang paling berambisi untuk mencari peluang dari Blockchain.

Berdasarkan riset Business Insider, di kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA) hampir seluruh bank global telah bereksperimen dengan Blockchain. Mereka tertarik dengan Blockchain karena teknologi itu berpotensi memangkas biaya dan meningkatkan efisiensi dalam operasional.

Perkembangan di Indonesia

Ketertarikan terhadap teknologi Blockchain tak hanya datang dari perbankan saja, Bank Indonesia rupanya ikut tertarik untuk memanfaatkan teknologi Blockchain. Otoritas moneter mengklaim sedang melakukan kajian terkait teknologi tersebut, masih menunggu hasilnya.

“Kami masih mengalkulasikan dampak dan mitigasi risiko apabila [teknologi Blockchain] itu diterapkan,” ujar Onny Widjanarko, Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia dikutip dari Antara.

Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) telahresmi diluncurkan. Asosiasi ini merupakan wadah pelaku industri yang memiliki visi untuk berinovasi, memajukan, dan membentuk ekosistem teknologi blockchain Indonesia yang berkualitas.

Chairman ABI Oscar Darmawan menyebut, ABI didirikan oleh sejumlah perusahaan blockchain yang merupakan anggota-anggota awal ABI, yakni Blocktech Indonesia, Blockchain Zoo, INDODAX, Indonesian Blockchain Network, Luno, dan Pundi X. Meskipun demikan, imbuh Oscar, ke depan ABI diyakini bakal memiliki lebih banyak anggota, sejalan dengan perkembangan blockchain yang pesat di Indonesia. 

"Kepada anggota, ABI memudahkan akselerasi adopsi teknologi blockchain dalam era industri 4.0 melalui intregrasi, kolaborasi, dan pertukaran pengetahuan," jelas Oscar dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, seperti dilansir Kompas.com (21/3/2018).

Oscar menuturkan, ABI pun memosisikan diri sebagai mitra pemerintah untuk menghimpun pelaku industri agar menjadi mitra dalam merumuskan kebijakan yang diperlukan untuk kemajuan eksosistem teknologi blockchain. (inf)

(***)


PROFIL PENULIS

Socmed Ebis


Ada 0 Komentar

Kirim Komentar